Articles Comments

Galeribogor.net » Urban People » Seniman di Sudut Kota

Seniman di Sudut Kota

Sudut gerbang yang mungkin sering luput dari pandangan mata, atau sebagian dari kita tidak menganggap hal ini mencuri perhatian, walau letaknya di trotoar jalan utama, disudut gerbang pintu 3 Kebun Raya Bogor, tidak jauh dari Kantor Pos Pusat di jalan Juanda, kita dapat menjumpai para pelukis kaki lima, trotoar inilah menjadi tempat mangkal, bersandar hidup seniman jalanan ini, tampak lalu lintas pejalan kaki tertegun dan berhenti sesaat melihat hasil karya mereka, namun ada juga yang tak bergeming, bergegas dan tak menoleh sedikitpun ke beberapa hasil karya yang terpajang rapi tergantung dipagar terali besi kebun raya, bisa jadi karena sudah sering melihat atau memang tidak interest sama sekali, terpampang ada lukisan Bapak Presiden, ada karikatur Tukul, dan aneka lukisan wajah lainnya,


Tampak seorang lelaki berkulit coklat berkacamata, duduk mengenakan sebuah topi abu-abu, tersemat pin tugu kujang di kepalanya, “ini warisan dari kakek saya, dulu beliau pejuang” begitulah ucap Manggala, sapaan akrabnya, sambil sesekali memoleskan cotton bud terpulas carbon diatas lukisan sepasang remaja.

Saya belajar melukis sejak umur 10 tahun sama Bapak saya, dan juga suka belajar dan melihat para seniman melukis, otodidak, itulah kesimpulan yang bisa saya ambil dari perbincangan ini, Manggala yang sehari-hari berada di tempat ini, tinggal di daerah Paledang, “di rumah, saya juga membuka kursus, buat yang mau belajar”, biayanya Rp 250.000 perbulan/8 kali pertemuan, tapi bisa juga kalau cuma mau 1 kali datang, biayanya hanya Rp 50.000 ujar Manggala, Manggala selain mahir melukis wajah, ia juga mampu membuat karikatur serta lukisan-lukisan pemandangan nan indah, serba bisa, itulah kesimpulan saya sejenak obrol ringan siang itu, dengan berbekal serbuk carbon, kaca pembesar, cotton bud, pensil, penghapus, kertas A3 dan penyangga, Manggala kembali asik meneruskann lukisan pesanan pelanggannya

Masih di trotoar yang sama, saya juga berbincang dengan Pak Eki, sejenak saya memotret beberapa kali, sambil menunggu Pak Eki yang sedang melayani pesanan lukisan, transaksi tawar menawar akhirnya deal, dan selembar uang lima puluh ribuan tersimpan rapi di balik dompet hitam Pak Eki, “ok ini sebagai DP ya, ujar beliau pada pemesan lukisan wajah”.  Lelaki yang berkukit sawo matang, rambut ikal sebahu inipun kemudian meneruskan kerjaannya melukis sebuah foto lama, sayapun mengamati satu persatu lukisan karya Pak Eki, “Saya dulu tinggal di Jakarta, namun karena tuntutan ekonomi, saya pindah melukis di Bogor, dan hasilnya lumayan, bisa menghidupi keluarga saya”, itulah cerita Pak Eki pada saya. Okh ya, “Saya bisa membuat apa saja lho, buat mural, lukisan dome, karikatur, apa saja bisa pesan ke saya” dengan bersemangat pak Eki menceritakan bisnis seninya ini, kalau mau buat lukisan saya selalu ada disini harganya mulai dari 100 ribu- 500 ribu tergantung berwarna atau tidak dan ukuran lukisannya, itulah pesan terakhir Pak Eki sebelum akhirnya beliau pergi membeli makan siangnya, obrolan singkat dan padat inilah yang menutup perbincangan saya pada Pak Eki yang tinggal bersama keluarganya di daerah pancasan baru

Sesaat perhatian saya kembali ke Manggala, karena penasaran akan hasil lukisan wajah yang sedari awal saya lihat, sapuan-sapuan ujung kapas itu meliuk-liuk membentuk garis rambut, goresan jejak di kertas berpuas carbon, wow! Luar biasa, hasil karya pelukis jalanan ini tidak kalah menarik dari pelukis-pelukis kelas galeri ternama, dan dengan maksud tak ingin mengganggu keseriusan Manggala, sayapun teralihkan perhatian pada susunan rapi perangko dan uang lama, koleksi-koleksi langka ini juga bisa kita temukan disini, 1 set perangko berisi 6 buah, “ ini harganya Rp 30.000 satu set”, saya pun tidak berhenti bertanya sampai disitu, deretan uang seri lama seratus rupiah, limaratus rupiah, berjajar rapi, “harganya semakin mahal kalau tahunnya semakin tua”, ujar Indra sang pedagang uang kuno, uang seratus ini 1 lembarnya Rp 10.000, kalau yang tahun 1956 ini bisa sampai Rp 50.000, Indrapun sangat bersemangat menjelaskannya pada saya.

Hari semakin terik walau saya berada di bawah sejuknya pohon bambu di trotoar ini, Saya lirik jam tangan, hari menunjukkan pukul 1 siang, ok Manggala, Indra saya pulang dulu, lain kali saya mampir kesini lagi ya, saya juga mau di lukis dengan polesan carbon hitam di kertas putih, salam buat Pak Eki, yang sampai saat saya akan pergi masih menghilang makan siang.

Filed under: Urban People · Tags:

Leave a Reply

*

*